Dalam diskusi dengan beberapa pemain mikrokontroler, ada satu isu yang
mengemuka, apakah kita akan bertahan dengan idealisme, artinya, setiap
pengguna mikrokontroler haruslah menggunakan bahasa assembly sebagai
bahasa pemrograman, atau lebih fokus pada aplikasi, tanpa menghiraukan
bahasa pemrograman yang digunakan?
Harus diakui, belajar assembly tidak mudah. Sehingga, dalam masa
pembelajarannya, kerap kali, kita kehabisan waktu, sehingga banyak
proyek menjadi terbengkalai alias tidak selesai.
Dalam diskusi tersebut, muncul perdebatan yang sangat hangat. Perdebatan
baru berhenti setelah seorang teman yang sangat senior berkata, "Kalian
memperdebatkan idealisme, siapa paling hebat dalam hal assembly. Mohon
maaf, berapa banyak aplikasi yang sudah kalian buat?"
Saya kira, soal bahasa pemrograman yang digunakan, tidak perlu
diperdebatkan. Yang penting, hasil atau aplikasinya ada, selesai dan
bisa segera dimanfaatkan. Menggunakan assembly tidak masalah.
Menggunakan C atau BASIC pun tidak masalah. Terkadang, pengguna
mikrokontroler merasa kurang afdol kalau belum menguasai assembly. Ya,
silahkan saja. Yang penting, jangan sampai kehabisan waktu, sementara
proyek yang dikerjakan tidak kunjung selesai :)
Harus diakui, untuk proyek yang menuntut respons yang segera (real
time), mau tidak mau, suka tidak suka, assembly adalah pilihan. Untuk
kebutuhan seperti ini, mikrokontroler yang digunakan pun harus gegas dan
memang dikhususkan untuk operasi real time.
Mikrokontroler: Idealisme dan Aplikasi
Christianto Tjahyadi, Ir, Sabtu, 02 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Comments :
Posting Komentar