Kebanyakan pemain MCS-51 beralih ke AVR saat membutuhkan kecepatan yang
lebih tinggi. Bisa dipahami karena kebanyakan instruksi di-eksekusi
dalam satu siklus clock saja (bandingkan dgn MCS-51 yang memerlukan
1-12 siklus clock). Kedua, di kebanyakan chip AVR buatan Atmel
(www.atmel.com) ini sudah built-in ADC (biasanya 10 bit), sehingga untuk
meng-capture masukan analog, tidak perlu menambahkan rangkaian eksternal
(kecuali 10 bit tidak memadai).
Dari sisi bahasa pemrograman, khususnya bahasa tingkat tinggi, hampir
tidak ada perbedaan. Hanya perlu perhatian pada fitur spesifik yg hanya
dimiliki oleh AVR.
Harga? Untuk yang non-industrial standard, kelihatannya cukup murah.
Misalnya saja ATTINY2313 (2k Flash, 20 pin, 18 pin I/O, dapat dipacu
hingga 20MHz) sekitar 15 ribu. Yang lebih besar seperti ATMEGA8 (8k
Flash) sekitar 15 ribu juga. Yang ada built-in ADC seperti ATTINY26 (2k
Flash, 11 channel ADC 10 bit) sekitar 16 ribu. Yang lebih besar seperti
ATMEGA8535 sekitar 50 ribu. Untuk yg membutuhkan flash yang besar hingga
128k, bisa memilih ATMEGA128, yang harganya sekitar 80 ribu.
Jadi, dari sisi harga, relatif terjangkau.
Berikut adalah contoh pemrograman dalam bahasa BASIC (dgn BASCOM-AVR,
www.mcselec.com) untuk membuat sebuah LED yang terhubung dgn port B.0
berkedip:
Config Portb = Output 'set port B as output
Do
Portb.0 = 1 ' set port B high
Waitms 500 ' wait 500 ms
Portb.0 = 0 ' set port B low
Waitms 500 ' wait 500 ms
Loop
Cukup sederhana, bukan? :)
Mengapa Memilih Mikrokontroler AVR?
Christianto Tjahyadi, Ir, Sabtu, 16 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Comments :
Posting Komentar